‘Inna Lillahi’

SELEPAS subuh, suara  loud speaker masjid yang biasanya sudah istirahat memekik kembali.  Inna lillahi waina ilaihi rajiun .” Kalimat itu memberhentikan aktivitas harian yang baru saja dimulai. Yakni, untuk takzim mendengarkan berita dukacita itu. Disertai kalimat belasungkawa, jelas sudah siapa yang meninggal dunia hari itu. Kedekatan jarak dan emosi membawa saya menunda agenda harian untuk bertakziah ke rumah duka, juga ke permakaman. Yang saya tahu, itu salah satu kewajiban umat yang hidup kepada sesama yang mati. *** Di permakaman umum. Warga sudah berhimpun dalam barisan antre untuk mengeduk liang lahat pada posisi yang telah ditentukan juru kunci. Sedemikian banyak orang, tetapi, pekerjaan hanya terkonsentrasi kepada satu tempat, sempit pula. Tak pelak, jauh lebih banyak yang hanya menjadi tukang membersihkan pacul, menganggur, mengobrol, temu kangen, bahkan banyak yang  ngebanyol. Atau, mereka membersihkan makam kerabatnya. Menunggu galian 2 x 1 meter, kedalaman 1,5 meter dengan tanah bercadas memang cukup lama. Tak heran jika obrolan juga  ngalor ngidul. Salah satu bahasan di satu grup adalah soal lahan permakaman umum yang makin sempit. Kami sempat memikirkan akan dilebarkan ke mana jika makam ini sudah penuh. Sementara, kanan kiri lokasi sudah berdiri bangunan. Kalaupun ada yang belum dibangun, harganya pasti akan sangat mahal. Ada yang menggerutu karena tidak ada peraturan soal pembuatan nisan. Sebab, ada yang membuat nisan ukurannya sangat besar dan tidak mungkin digeser sedikit untuk sekadar memberi ruang gali. Soal mulai menyempitnya permakaman itu tampaknya selalu menjadi perbincangan sejak lama. Utamanya, pada saat-saat warga berkumpul di permakaman untuk mengantar sanak kerabat yang meninggal. Dan soal itu, ada seseorang yang benar-benar mengkhawatirkannya. Ia tampaknya sangat takut jika suatu saat dia meninggal tidak kebagian lahan. Serta-merta, ia meminta izin juru kunci untuk mengkavling salah satu lahan dengan memasang pondasi 1 x 2 meter di lokasi. Soal pengavelingan kuburan, ada yang menyatakan orang tidak hak karena tanah makam itu milik umum. Ada yang salut karena masih sehat sudah berpikir mati secara fisik. Ada yang berkomentar: “Nikmat di alam kubur bukan diukur dari kilau nisannya”. Dan pro-kontra lainnya. Kepada Pak Jayus, lelaki sepuh dan salah satu tetua desa yang rajin hadir di permakaman saat ada warga meninggal, seseorang bertanya pendapatnya soal itu. Dengan suaranya yang kecil, serak-basah, dan melengking, pria bijak itu berkata: “Saya  mah nggak pusing  mikirin kuburan. Hidup itu mengunduh buahnya perbuatan. Kalau baik kepada masyarakat, tidak mungkin kita tidak diurus masyarakat. Bahkan, kalau sudah mati, jangankan manusia, kodok pun disingkirkan dari jalan. Karena bau. Apalagi manusia, pasti dikubur.  Nggak soal, di mana,” kata dia. Ia melanjutkan bukan kuburannya yang akan dilihat Allah swt. saat kita harus menghadap Tuhan, tetapi amal perbuatan kita di dunia. Jadi, katanya, harusnya kita memesan rumah abadi di akhirat dengan membangun masjid atau rumah yatim piatu di dunia. Juga beribadah dan berbuat baik kepada sesama. Bukannya membuatkan kuburan dengan nisan emas. Selamat beribadah Ramadan untuk mengisi “pulsa” akhirat! Inna lillahi!

Mengapa Mesti di Saat Ramadan

RISAU saya menyaksikan sajian media elektronik dan cetak tentang razia tempat hiburan, prostitusi, dan hal-hal lain yang dianggap mengancam kesucian dan kehormatan Ramadan. Saya risau karena, pertama, belum menemukan relevansi sejati antara beroperasinya hal-hal tersebut dan kesucian Ramadan. Kedua, razia yang dilakukan hanya di bulan Ramadan membuat sebuah demarkasi antara keharusan dan tidak keharusan adanya moral yang baik, serta mempersempit makna moralitas yang berkembang dalam masyarakat.
Pandangan saya mungkin sangat subjektif, dan dampaknya juga mungkin sangat relatif. Mungkin, ini sebuah kegelisahan saya atas fenomena yang terjadi, termasuk dalam cara kita menyikapi Ramadan, dan konteksnya dalam menjaga moral secara berkesinambungan.
Ramadan tidak datang setiap bulan, apalagi keistimewaan dan keutamaannya sangat besar. Pahala berlipat dan pintu ampunan dibuka lebar-lebar. Jadi, apalagi yang membuat mata hati kita tertutup untuk menyambut bulan penuh rahmat ini? Perilaku istimewa, termasuk dalam konteks  social setting, khususnya terkait hal-hal yang potensial mengganggu kenyamanan beribadah, memang harus ditata.
Dalam konteks itu, saya sangat setuju razia terhadap berbagai hal yang potensial melahirkan, apalagi memang sudah maksiat, dilakukan. Tetapi,  pertanyaannya, mengapa harus dilakukan hanya di bulan Ramadan, padahal dalam bulan apa pun maksiat tak boleh dilakukan? Kebaikan moral bukan hanya patut dilakukan pada Ramadan, melainkan seluruh bulan.
Apakah itu semata dilakukan demi menghormati orang yang berpuasa, dan menjaga kesucian bulan Ramadan? Seorang muslim sejati menunaikan puasa semata hanya karena Allah swt. Apa pun risiko atau godaannya (termasuk prostitusi, hiburan malam, dan warung-warung yang buka siang hari), tak akan luntur kalau iman memang teguh. Bukankah pula Ramadan tetap suci meski banyak umat muslim yang mengabaikan kewajibannya sebagai muslim, sebagaimana Islam yang tak akan kotor meski perilaku umatnya sangat kotor?
Fakta razia–dengan dalih menghormati puasa–memberi kesan seakan-akan kita menoleransi kemaksiatan di bulan-bulan lain. Lantaran itukah pula, sebagian kita, muslim taat sekalipun, bergeming akan fakta terjadinya maksiat di luar Ramadan? Di luar Ramadan, kita imun terhadap berbagai kejahatan padahal potensi kerusakan moral dan  multiplier effect -nya sangat dasyhat.
Menjaga moral masyarakat bukanlah sekadar persoalan waktu, apalagi secara sporadis dan parsial. Kontrol publik memang terkadang terlihat kasar dan tidak berperikemanusiaan. Tapi sederhananya, menyeru kebaikan itu wajib hukumnya, kapan pun waktunya.
Di sisi lain, upaya menjaga moral dengan cara represif tanpa pendekatan dan solusi komprehensif, tak akan pernah berhasil. Kejahatan akan terus terulang.
Solusi harus selaras akar persoalan. Semua pihak harus duduk satu meja mencari solusi dan menempatkan pelaku kejahatan (di bulan Ramadan sekalipun) bukan sebagai objek sampah yang menjijikkan. Sebab, sejatinya, tidak pernah ada manusia yang mau menjadi penjahat atau pelacur. Ramadan mestinya hanya sebuah momentum untuk itu.

Janganlah Kita Sombong

AKU tersentak, membayangkan diri di atas gedung bertingkat. Aku lihat bentuk tubuh orang sudah mengecil dari pandangan. Bayanganku pun terus menjauh, sampai aku di atas pesawat terbang, betapa rumah-rumah dan gedung-gedung seperti titik, dan bentuk manusia bumi pun sudah tidak terlihat. Aku pun membayangkan bagaimana kalau aku terus terbang sampai mendekati awan, pasti apa yang ada di atas bumi sudah tidak terlihat. Mungkin, yang terlihat hanya bentuk pulau-pulau dan hamparan laut luas. Dan, aku pun tak bisa membayangkan, jika aku berada di bulan, mungkin bumi hanya terlihat seperti bola kecil. Seperti kita melihat bulan saat malam. Subhanallah. Betapa kita selama ini, merasa besar. Hingga terkadang membuat kita congkak dan sombong. Sering kita meremehkan orang lain, dan menganggap kita lebih dari segalanya. Kita pun sering melihat orang jauh lebih rendah dari kita, dan menganggap diri adalah segalanya. Padahal, di hadapan Tuhan, kita begitu kecil. Bahkan lebih kecil dari debu yang terhempas angin. “Dengan fakta itu, masihkah kita merasa besar di hadapan makhluk Tuhan lainnya. Yang Mahabesar itu Allah, yang mahasempurna adalah Allah,” kata seorang teman. Subhanallah. Apa yang kita lihat selama ini, memang fakta dunia. Ketika seseorang diberikan kewenangan dianggap sebuah kekuasaan. Menganggap semua miliknya. Semua harus tunduk dan patuh padanya. Padahal, jabatan yang diberikan kepada kita, sebenarnya adalah amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya. Karena, jabatan yang kita miliki adalah amanah yang hanya sementara. “Faktanya, banyak orang yang baru diberi kewenangan, seolah sudah menjadi penguasa,” kata teman lagi. Rasulullah saw., pernah bersabda; Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia (H.R. Muslim). Kesombongan adalah satu sifat yang bisa menghalangi seseorang dari ilmu dan kebenaran. Bahkan lebih dari itu, sifat tercela ini juga akan mengakibatkan kemurkaan Allah. Sebagaimana firman Allah; Dan, janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Subhanallah. Ini adalah fakta dunia. Seringkali, dihadapan kita, kita masih menyaksikan orang-orang sombong dengan segala kekurangannya. Menekan kaum lemah dengan mengganggap dirinya superior. Padahal, apa yang dilakukan menjadi kebencian di mata sesama dan di hadapan Allah. Seorang teman pernah bercerita, kalau dia mendapatkan seorang atasan yang culas dan sombong. Jika dilihat, jabatan yang diembannya tidaklah tinggi. Namun, kewenangan yang dia terima dari perusahaan, telah menjadikannya sosok yang angkuh, hingga menolak segala bentuk masukan. Karena, dia selalu merasa pintar dan benar. Subhanallah. Semoga, orang-orang yang selama ini berdiri dengan kesombongannya, pada bulan Ramadan ini mendapat hidayah. Dan, dia menyadari apa yang dia lakukan selama ini. Karena, disadari atau tidak, kesombongan yang dimiliki orang yang sombong, telah membuat lingkaran jeruji, hingga membuat dia sebenarnya sangat lemah di hadapan siapa pun. Na’uzubilahi minzalik.

Kalau Puasa…

“KALAU puasa itu ®MDRV¯nggak®MDNM¯ boleh marah.”
“Anak kecil juga tahu.”
Tapi, biarpun anak kecil juga tahu, di bulan Ramadan ini tetap saja ada emosi tak bisa ditahan-tahan.
“Marah itu kan perlu untuk mengingatkan orang bandel,” kilah Minan Tunja.
Merasa terkena sindir, Mamak Kenut malah menjadi marah betulan. “Ehh, siapa yang bandel?” katanya sengit.
“Lo, ®MDRV¯dibilangin®MDNM¯ baik-baik malah marah-marah.”
“La, tadi itu siapa yang ®MDRV¯dibilangin®MDNM¯ bandel?”
Minan Tunja terpingkal-pingkal. Kayak anak kecil ®MDRV¯aja®MDNM¯.
***
“Kalau puasa itu ®MDRV¯nggak®MDNM¯ boleh bohong.”
“Anak kecil juga tahu.”
Tapi, biarpun anak kecil juga tahu, di bulan Ramadan ini orang-orang tetap saja suka membual.
“Daripada berkata yang tidak-tidak kan lebih baik diam,” kata Radin Mak Iwoh.
“Saya kan ®MDRV¯ngoceh®MDNM¯ karena mendapati kerja aparat dalam melayani publik benar-benar kendur,” kata Udien.
Merasa dilecehkan, Radin Mak Iwoh malah berkoar-koar. “Harap maklumlah. Pekerjaan pegawai itu kan banyak. Bukan hanya satu. Kalau lamban, itu kan karena urusannya bukan hanya dengan kau. Kamu ini ®MDRV¯nggak ngerti-ngerti®MDNM¯ juga. Pengabdian pegawai itu kepada negara mulia. Kau jangan sembarangan ®MDRV¯ngomong®MDNM¯. Pegawai itu….”
“Radin mestinya bohong lagi…”
“Ini benar!”
Udien hanya tertawa. Kayak anak kecil ®MDRV¯aja®MDNM¯.
***
“Kalau puasa harus jujur.”
“Anak kecil ®MDRV¯aja®MDNM¯ tahu.”
Tapi kenyataan kebohongan dan kemunafikan malah diumbar.
***
“Kalau puasa itu, ®MDRV¯nggak®MDNM¯ boleh kumur-kumur lama-lama, apalagi kalau sampai airnya ditelan.”
“Anak kecil juga tahu.”
Tapi, biarpun anak kecil juga tahu, tetap saja ada orang yang mencuri-curi kesempatan mencari makan siang.
“Habis ®MDRV¯nggak®MDNM¯ kuat nih,” kata Pinyut.
“Kemarin saya coba puasa, mag saya kumat,” kata entah siapa.
“Masak nahan lapar sehari ®MDRV¯aja nggak®MDNM¯ sanggup. ®MDRV¯Nggak®MDNM¯ malu,” kata keponakannya Mamak Kenut.
®MDRV¯Alesan®MDNM¯! Kayak anak kecil ®MDRV¯aja®MDNM¯.
“KALAU puasa itu nggak boleh marah.”
“Anak kecil juga tahu.”
Tapi, biarpun anak kecil juga tahu, di bulan Ramadan ini tetap saja ada emosi tak bisa ditahan-tahan.
“Marah itu kan perlu untuk mengingatkan orang bandel,” kilah Minan Tunja.
Merasa terkena sindir, Mamak Kenut malah menjadi marah betulan. “Ehh, siapa yang bandel?” katanya sengit.
“Lo,  dibilangin baik-baik malah marah-marah.”
“La, tadi itu siapa yang dibilangin bandel?”
Minan Tunja terpingkal-pingkal. Kayak anak kecil aja.
***
“Kalau puasa itu nggak boleh bohong.”
“Anak kecil juga tahu.”
Tapi, biarpun anak kecil juga tahu, di bulan Ramadan ini orang-orang tetap saja suka membual.
“Daripada berkata yang tidak-tidak kan lebih baik diam,” kata Radin Mak Iwoh.
“Saya kan ngoceh karena mendapati kerja aparat dalam melayani publik benar-benar kendur,” kata Udien.
Merasa dilecehkan, Radin Mak Iwoh malah berkoar-koar. “Harap maklumlah. Pekerjaan pegawai itu kan banyak. Bukan hanya satu. Kalau lamban, itu kan karena urusannya bukan hanya dengan kau. Kamu ini nggak ngerti-ngerti juga. Pengabdian pegawai itu kepada negara mulia. Kau jangan sembarangan ngomong. Pegawai itu….”
“Radin mestinya bohong lagi…”
“Ini benar!”
Udien hanya tertawa. Kayak anak kecil ®MDRV¯aja®MDNM¯.
***
“Kalau puasa harus jujur.”
“Anak kecil  aja tahu.”
Tapi kenyataan kebohongan dan kemunafikan malah diumbar.
***
“Kalau puasa itu, nggak boleh kumur-kumur lama-lama, apalagi kalau sampai airnya ditelan.”
“Anak kecil juga tahu.”
Tapi, biarpun anak kecil juga tahu, tetap saja ada orang yang mencuri-curi kesempatan mencari makan siang.
“Habis  nggak kuat nih,” kata Pinyut.
“Kemarin saya coba puasa, mag saya kumat,” kata entah siapa.
“Masak nahan lapar sehari aja nggak sanggup. Nggak malu,” kata keponakannya Mamak Kenut.
Alesan ! Kayak anak kecil aja.

Murid Murtad

“SUDAH berulangkali kepunyaan kita diambil sama negara lain. Tapi pemerintah bergeming menanggapinya,” kata Kacung kepada ®MDRV¯bokinnya®MDNM¯ Inem, pembantu tetangga majikannya.
Kacung terus ®MDRV¯ngeromet®MDNM¯ setelah memebaca koran bahwa tari pendet diklaim Malaysia. “Bagaimana tidak, dulu kita sangat bangga dengan keberadaan negeri jiran sebagai bangsa serumpun. Dengan baiknya Indonesia mengirimkan guru ke negeri itu, termasuk guru kesenian,” kata dia.
“®MDRV¯Emang®MDNM¯ apa hubungannya dengan tari pendet itu, Bang. Bukannya kita bangga kita terus bisa mengirim tenaga kerja “profesional” ke Negeri Jiran itu, sebab tak perlu lagi latihan bahasa karena memang bahasanya serumpun dan bisa dimengerti,” jawab Inem.
“Untung saja yang dikirim ke Malaysia itu hanya guru Kesenian, Geografi, dan guru mengurus rumah tangga,” kata Kacung.
Sehingga dalam satu dasawarsa kemudian banyak sekali ilmu yang didapat warga Malaysia dipakai untuk menyerang balik gurunya, Indonesia. Dimulai dengan ilmu geografi dari Indonesia yang dipakai untuk merebut pulau-pulau terluar. Dan terbukti, bahwa ilmu yang digunakan mereka untuk menyerang Indonesia sangat ampuh. Dua Pulau Sipadan dan Ligitan dapat diambil Malaysia, ironisnya mereka menggunakan ilmu geografi yang dipelajarinya dari gurunya yang berasal dari Indonesia.
“Wiihhh… memang murid durhaka,” entak Kacung yang membuat Inem pucat.
Kemudian, pada dasawarsa kedua, Malaysia tidak lagi mempermasalahkan pulau-pulau terluar Indonesia. Niatnya untuk mengklaim pulau mulai memudar. Namun keinginannya diubah dengan mengklaim kesenian dan kebudayaan Indonesia. Ilmu menggubah lagu diterapkannya untuk kembali “mengejek” guru seni budayanya Indonesia, dengan mengklaim lagu ®MDRV¯Rasa Sayange®MDNM¯ dan ®MDRV¯Injit-injit Semut®MDNM¯ sebagai bagian dari lagu rakyat Negeri Jiran.
“Tapi yang paling menunjukkan kemurtadan mereka sebagai seorang murid adalah dengan mengklaim tari pendet,” kata Kacung bersemangat. Sebab, tari pendet itu adalah tari milik masyarakat Bali yang dulunya digunakan hanya untuk acara keagamaan. Setelah dilakukan pembaharuan dan diubah sedemikian rupa, akhirnya tari itu bisa digelar dalam pertunjukan seni.
“Kalau tari bedana dan serampang, bolehlah diklaim Malaysia. Sebab memang itu tari-tari melayu. Tapi kalau tari pendet, dari mana asal usulnya mereka mengklaim, sementara mereka belajar dari gurunya yang berbangsa Indonesia dari bagian tengah dan berkebudayaan Hindu. Aneh…aneh,” kata dia.
Kemudian, mimik Inem berubah pucat pasi. Dan dengan terbata-bata, dia bercerita kepada Kacung. “Iya, Bang… beberapa hari lalu saya ditawari untuk ke Malaysia mengajar PPLN–Pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan. Apa maksud mereka ya?”
Kacung langsung menjawab. “Sudah-sudah Nem, jangan kau ambil tawaran itu, berapa pun gajinya. Karena kemungkinan Malaysia akan mencuri Garuda Pancasilanya bangsa Indonesia.” Astaghfirullahiladzim.
“SUDAH berulangkali kepunyaan kita diambil sama negara lain. Tapi pemerintah bergeming menanggapinya,” kata Kacung kepada bokinnya Inem, pembantu tetangga majikannya.
Kacung terus ngeromet setelah memebaca koran bahwa tari pendet diklaim Malaysia. “Bagaimana tidak, dulu kita sangat bangga dengan keberadaan negeri jiran sebagai bangsa serumpun. Dengan baiknya Indonesia mengirimkan guru ke negeri itu, termasuk guru kesenian,” kata dia.
Emang apa hubungannya dengan tari pendet itu, Bang. Bukannya kita bangga kita terus bisa mengirim tenaga kerja “profesional” ke Negeri Jiran itu, sebab tak perlu lagi latihan bahasa karena memang bahasanya serumpun dan bisa dimengerti,” jawab Inem.
“Untung saja yang dikirim ke Malaysia itu hanya guru Kesenian, Geografi, dan guru mengurus rumah tangga,” kata Kacung.
Sehingga dalam satu dasawarsa kemudian banyak sekali ilmu yang didapat warga Malaysia dipakai untuk menyerang balik gurunya, Indonesia. Dimulai dengan ilmu geografi dari Indonesia yang dipakai untuk merebut pulau-pulau terluar. Dan terbukti, bahwa ilmu yang digunakan mereka untuk menyerang Indonesia sangat ampuh. Dua Pulau Sipadan dan Ligitan dapat diambil Malaysia, ironisnya mereka menggunakan ilmu geografi yang dipelajarinya dari gurunya yang berasal dari Indonesia.
“Wiihhh… memang murid durhaka,” entak Kacung yang membuat Inem pucat.
Kemudian, pada dasawarsa kedua, Malaysia tidak lagi mempermasalahkan pulau-pulau terluar Indonesia. Niatnya untuk mengklaim pulau mulai memudar. Namun keinginannya diubah dengan mengklaim kesenian dan kebudayaan Indonesia. Ilmu menggubah lagu diterapkannya untuk kembali “mengejek” guru seni budayanya Indonesia, dengan mengklaim lagu Rasa Sayange dan Injit-injit Semut sebagai bagian dari lagu rakyat Negeri Jiran.
“Tapi yang paling menunjukkan kemurtadan mereka sebagai seorang murid adalah dengan mengklaim tari pendet,” kata Kacung bersemangat. Sebab, tari pendet itu adalah tari milik masyarakat Bali yang dulunya digunakan hanya untuk acara keagamaan. Setelah dilakukan pembaharuan dan diubah sedemikian rupa, akhirnya tari itu bisa digelar dalam pertunjukan seni.
“Kalau tari bedana dan serampang, bolehlah diklaim Malaysia. Sebab memang itu tari-tari melayu. Tapi kalau tari pendet, dari mana asal usulnya mereka mengklaim, sementara mereka belajar dari gurunya yang berbangsa Indonesia dari bagian tengah dan berkebudayaan Hindu. Aneh…aneh,” kata dia.
Kemudian, mimik Inem berubah pucat pasi. Dan dengan terbata-bata, dia bercerita kepada Kacung. “Iya, Bang… beberapa hari lalu saya ditawari untuk ke Malaysia mengajar PPLN–Pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan. Apa maksud mereka ya?”
Kacung langsung menjawab. “Sudah-sudah Nem, jangan kau ambil tawaran itu, berapa pun gajinya. Karena kemungkinan Malaysia akan mencuri Garuda Pancasilanya bangsa Indonesia.” Astaghfirullahiladzim.

Puasa

PULANG kampung mendadak pekan lalu, saya mendapat pinjaman mobil dari saudara. Dengan senang hati, karena mobil ini lebih baik dari yang biasa saya tunggangi. Tahun pembuatan lebih muda, berpendingin udara, dan lebih sehat.
Perjalanan dimulai. Melewati kilometer pertama, saya mulai mendapati sesuatu yang tidak biasa pada mobil ini. Yakni, klakson yang tidak berbunyi. Ini cukup mengganggu berkendara karena kebiasaan saya dengan mobil butut kami, klakson menjadi senjata utama. Gunanya, untuk “menghardik” pengendara di depan yang tidak memberi jalan, “mengejek” kendaraan yang baru saja saya dahului, dan menyapa teman jika bertemu di perjalanan.
Menyetir tanpa “senjata” hari itu menjadi terasa amat berat. Beberapa kali, secara refleks saya menekan tombol klakson dengan amat jengkel dan keras ketika ada pengendara sepeda motor yang saya nilai tidak mengindahkan etika berkendara.
Saat mendahului kendaraan lain, lalu melaju kencang, saya juga tekan klakson itu. Saat melihat teman atau kerabat di kampung sedang mengayuh sepeda, saya juga tekan klakson. Padahal, sekali lagi saya katakan, klakson itu tidak menyalak.
Sadar klakson tidak menyala, saya capek juga bolak-balik menekan tombolnya. Lama-lama, saya mulai terkondisi oleh ketiadaan alat pengaget orang itu.
Ketika ada pengendara sepeda motor asyik ®MDRV¯nyantai®MDNM¯ di tengah jalan sambil mengobrol dengan pengendara sepeda motor lain, saya memilih menginjak rem untuk memperlambat laju mobil. Ketika mendahului kendaraan lain, saya cukup memberi tanda dengan menghidupkan lampu sein kanan tanda permisi. Ketika berpapasan kerabat dan teman sedang mengayuh sepeda atau menggembala kambing di kampung, saya memilih perlahan, membuka kaca, dan mengucap salam. Dengan beradaptasi dengan keadaan, saya justru berkendara jauh lebih nyaman.
Sedikit menarik hikmah dari perjalanan kecil itu, saya mendapati kesamaan dengan tujuan Tuhan “memaksa” umat beriman dengan puasa. Saya juga jadi ingat kembali kearifan tua yang tertulis di kayu ®MDRV¯blandar®MDNM¯ rumah orang tua di kampung “®MDRV¯Ajining diri gumantung soko lati®MDNM¯ (harga diri tergantung dari mulut)”.
Saya lalu membuat garis korelasi antara organ bicara ini dengan klakson di mobil saya yang masih nyaring meskipun sudah tua dan sering mogok. Selama ini, klakson itu terus menyalak tiada henti ketika saya mengendarai. Saya jadi sadar, mengapa harga diri ini demikian rendah. Ternyata, karena selama ini saya terlalu banyak omong.
Ini terjadi pada saya, tetapi mungkin juga pada Anda. Dengan mobil tanpa klakson, saya mulai merasa nyaman berkendara. Tetapi, untuk memetik hikmah dari cerita saya, Anda tidak perlu menjadi bisu. Berpuasa bukan berarti tidak makan. Selamat berpuasa.
PULANG kampung mendadak pekan lalu, saya mendapat pinjaman mobil dari saudara. Dengan senang hati, karena mobil ini lebih baik dari yang biasa saya tunggangi. Tahun pembuatan lebih muda, berpendingin udara, dan lebih sehat.
Perjalanan dimulai. Melewati kilometer pertama, saya mulai mendapati sesuatu yang tidak biasa pada mobil ini. Yakni, klakson yang tidak berbunyi. Ini cukup mengganggu berkendara karena kebiasaan saya dengan mobil butut kami, klakson menjadi senjata utama. Gunanya, untuk “menghardik” pengendara di depan yang tidak memberi jalan, “mengejek” kendaraan yang baru saja saya dahului, dan menyapa teman jika bertemu di perjalanan.
Menyetir tanpa “senjata” hari itu menjadi terasa amat berat. Beberapa kali, secara refleks saya menekan tombol klakson dengan amat jengkel dan keras ketika ada pengendara sepeda motor yang saya nilai tidak mengindahkan etika berkendara.
Saat mendahului kendaraan lain, lalu melaju kencang, saya juga tekan klakson itu. Saat melihat teman atau kerabat di kampung sedang mengayuh sepeda, saya juga tekan klakson. Padahal, sekali lagi saya katakan, klakson itu tidak menyalak.
Sadar klakson tidak menyala, saya capek juga bolak-balik menekan tombolnya. Lama-lama, saya mulai terkondisi oleh ketiadaan alat pengaget orang itu.
Ketika ada pengendara sepeda motor asyik nyantai di tengah jalan sambil mengobrol dengan pengendara sepeda motor lain, saya memilih menginjak rem untuk memperlambat laju mobil. Ketika mendahului kendaraan lain, saya cukup memberi tanda dengan menghidupkan lampu sein kanan tanda permisi. Ketika berpapasan kerabat dan teman sedang mengayuh sepeda atau menggembala kambing di kampung, saya memilih perlahan, membuka kaca, dan mengucap salam. Dengan beradaptasi dengan keadaan, saya justru berkendara jauh lebih nyaman.
Sedikit menarik hikmah dari perjalanan kecil itu, saya mendapati kesamaan dengan tujuan Tuhan “memaksa” umat beriman dengan puasa. Saya juga jadi ingat kembali kearifan tua yang tertulis di kayu blandar rumah orang tua di kampung “Ajining diri gumantung soko lati (harga diri tergantung dari mulut)”.
Saya lalu membuat garis korelasi antara organ bicara ini dengan klakson di mobil saya yang masih nyaring meskipun sudah tua dan sering mogok. Selama ini, klakson itu terus menyalak tiada henti ketika saya mengendarai. Saya jadi sadar, mengapa harga diri ini demikian rendah. Ternyata, karena selama ini saya terlalu banyak omong.
Ini terjadi pada saya, tetapi mungkin juga pada Anda. Dengan mobil tanpa klakson, saya mulai merasa nyaman berkendara. Tetapi, untuk memetik hikmah dari cerita saya, Anda tidak perlu menjadi bisu. Berpuasa bukan berarti tidak makan. Selamat berpuasa.

Pengendalian Diri

SUSAH memang kalau ada seseorang yang merasa “paling”. Sudah pasti semua yang di depannya terlihat lebih kecil kadarnya, walau sebenarnya si “paling” itu tak ada apa-apanya. Semua orang dipandang sebelah mata dan setiap peristiwa dipandang remeh, kebalikannya orang harus memandang baik tentangnya dan peristiwanya harus jadi perhatian. Layaknya seperti tak percaya dengan ®MDRV¯spiritual power®MDNM¯ dari Sang Khalik.
Hal ini yang tengah terjadi dalam kehidupan di Indonesia, di mana setiap orang merasa dirinya hebat. Setiap peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat, terus bermunculan orang-orang yang merasa “paling”. Mereka mengaku paling tahu tentang teori, analisis hingga seolah mendapat informasi terbaik.
Bahkan dengan beraninya membuat pernyataan bahwa si fulan bakal begini, begitu dan sebagainya. Apakah mereka tidak lagi percaya dengan ke-Esa-an, ke-Penyayang-an, ke-Pengasih-an, dan ke-Maha-an Allah. Bagaimana jika pernyataan itu, terjadi sebaliknya.
Mungkin di bulan Ramadan ini, semua harus introspeksi bahwa banyak mukjizat yang bakal turun. Sebab inti dari bulan yang suci ini adalah pengendalian diri dengan keteraturan hidup dan pencernaan bakal membawa kebahagiaan. Pernahkah mendengar orang yang mengerjakan puasa akan sengsara? Justru yang didengar adalah orang berpuasa akan sehat dan semakin baik baik emosional dan spiritualnya.
Dalam pandangan Islam, tidak hanya umat muslim yang mendapatkan perintah puasa. Justru di dalam Islam disebutkan bahwa perintah puasa itu juga diturunkan pada umat-umat sebelum Islam. Terbukti umat sebelum Islam yang melaksanakan puasa diberikan emosional dan spiritual yang lebih, hal itulah yang harus dipetik umat Islam dalam menghadapi bulan Ramadan untuk berpuasa.
Puasa adalah suatu bentuk latihan terhadap lahir dan batin kita,  selama satu bulan penuh untuk menghadapi sebelas bulan yang akan datang. Bagaimana kita mampu mengendalikan diri, menahan emosi, sabar, ikhlas, dan sebagainya selama bulan Ramadan tersebut. Pada bulan penuh rahmat ini kita perlu memupuk toleransi antarumat Islam yang waktu itu sama-sama berpuasa.
Hawa nafsu merupakan sesuatu yang melekat dalam setiap diri manusia. Tak jarang hawa nafsu ini menyeret manusia kearah keburukan, sehingga setiap orang bagaimanapun harus mampu mengendalikannya (puasa) ke arah yang benar dan bermanfaat. Salah satu jalan terbaik mengendalikan dan membentengi diri dari desakan hawa nafsu ini adalah dengan ibadah khusus sebulan dalam dua belas bulan yang kita lalui, yaitu berpuasa sebulan penuh selama bulam Ramadan.
Akhirnya hanya pikiran yang terkendali saja yang tidak membuat pernyataan-pernyataan “keji” dan sombong. Karena hidup di dunia ada yang mengatur, dan keteraturan itu akan membawa kedamaian di dunia. ®MDRV¯Allahuma amin®MDNM¯

SUSAH memang kalau ada seseorang yang merasa “paling”. Sudah pasti semua yang di depannya terlihat lebih kecil kadarnya, walau sebenarnya si “paling” itu tak ada apa-apanya. Semua orang dipandang sebelah mata dan setiap peristiwa dipandang remeh, kebalikannya orang harus memandang baik tentangnya dan peristiwanya harus jadi perhatian. Layaknya seperti tak percaya dengan spiritual power dari Sang Khalik.

Hal ini yang tengah terjadi dalam kehidupan di Indonesia, di mana setiap orang merasa dirinya hebat. Setiap peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat, terus bermunculan orang-orang yang merasa “paling”. Mereka mengaku paling tahu tentang teori, analisis hingga seolah mendapat informasi terbaik.

Bahkan dengan beraninya membuat pernyataan bahwa si fulan bakal begini, begitu dan sebagainya. Apakah mereka tidak lagi percaya dengan ke-Esa-an, ke-Penyayang-an, ke-Pengasih-an, dan ke-Maha-an Allah. Bagaimana jika pernyataan itu, terjadi sebaliknya.

Mungkin di bulan Ramadan ini, semua harus introspeksi bahwa banyak mukjizat yang bakal turun. Sebab inti dari bulan yang suci ini adalah pengendalian diri dengan keteraturan hidup dan pencernaan bakal membawa kebahagiaan. Pernahkah mendengar orang yang mengerjakan puasa akan sengsara? Justru yang didengar adalah orang berpuasa akan sehat dan semakin baik baik emosional dan spiritualnya.

Dalam pandangan Islam, tidak hanya umat muslim yang mendapatkan perintah puasa. Justru di dalam Islam disebutkan bahwa perintah puasa itu juga diturunkan pada umat-umat sebelum Islam. Terbukti umat sebelum Islam yang melaksanakan puasa diberikan emosional dan spiritual yang lebih, hal itulah yang harus dipetik umat Islam dalam menghadapi bulan Ramadan untuk berpuasa.

Puasa adalah suatu bentuk latihan terhadap lahir dan batin kita,  selama satu bulan penuh untuk menghadapi sebelas bulan yang akan datang. Bagaimana kita mampu mengendalikan diri, menahan emosi, sabar, ikhlas, dan sebagainya selama bulan Ramadan tersebut. Pada bulan penuh rahmat ini kita perlu memupuk toleransi antarumat Islam yang waktu itu sama-sama berpuasa.

Hawa nafsu merupakan sesuatu yang melekat dalam setiap diri manusia. Tak jarang hawa nafsu ini menyeret manusia kearah keburukan, sehingga setiap orang bagaimanapun harus mampu mengendalikannya (puasa) ke arah yang benar dan bermanfaat. Salah satu jalan terbaik mengendalikan dan membentengi diri dari desakan hawa nafsu ini adalah dengan ibadah khusus sebulan dalam dua belas bulan yang kita lalui, yaitu berpuasa sebulan penuh selama bulam Ramadan.

Akhirnya hanya pikiran yang terkendali saja yang tidak membuat pernyataan-pernyataan “keji” dan sombong. Karena hidup di dunia ada yang mengatur, dan keteraturan itu akan membawa kedamaian di dunia. Allahuma amin.